Pemanfaatan limbah bunga sisa upacara adat menjadi produk pupuk kompos organik berkualitas tinggi hadir sebagai inovasi solusi kebersihan lingkungan di kawasan wisata budaya. Setiap selesai pelaksanaan ritual adat, tonan limbah bunga kamboja dan sesaji yang menumpuk dipilah secara cepat oleh petugas kebersihan bekerjasama dengan warga lokal. Bunga-bunga segar sisa upacara tersebut dikumpulkan di fasilitas pengomposan khusus untuk dirajang dan dicampur dengan mikroba pengurai hayati. Langkah inovatif ini berhasil mengubah limbah menjadi barang bernilai ekonomis.
Proses pengomposan limbah bunga membutuhkan waktu beberapa minggu dengan pengawasan kelembapan dan suhu tumpukan secara berkala agar pencacahan organik berjalan sempurna. Pupuk kompos bunga yang dihasilkan kaya akan unsur hara nitrogen dan fosfor yang sangat baik untuk menyuburkan tanah perkebunan dan tanaman hias warga. Pengolahan limbah bunga secara mandiri ini berhasil menekan volume sampah organik yang sebelumnya membebani tempat pemrosesan akhir sampah daerah. Lingkungan area tempat ibadah menjadi jauh lebih bersih dan tertata asri.
Melalui pemanfaatan limbah organik bekas ritual adat ini, para petani lokal mendapatkan pasokan pupuk kompos berkualitas dengan harga yang sangat terjangkau untuk lahan pertanian mereka. Penggunaan kompos bunga alami juga menghemat penggunaan pupuk kimia sintetis sehingga kualitas tanah pertanian menjadi tetap gembur dan subur secara alami. Siklus daur ulang sampah organik ini menciptakan ekonomi sirkular yang memberikan dampak finansial langsung bagi warga sekitar kawasan adat. Kebudayaan dan kelestarian lingkungan berjalan seiring.
Sosialisasi dan pelatihan teknik pengomposan bunga sisa upacara terus diberikan kepada para pengelola tempat ibadah dan tokoh adat di seluruh wilayah desa. Kesadaran masyarakat adat untuk memilah sampah sisa ritual sejak dari sumbernya makin tumbuh tinggi karena merasakan langsung manfaat dari kompos yang dihasilkan. Tempat-tempat suci dan lokasi pelaksana upacara adat kini selalu tampak bersih, rapi, dan harum bebas dari tumpukan sampah busuk. Kebersihan menjadi bagian tak terpisahkan dari nilai-nilai spiritual.
Melalui konsistensi pemanfaatan limbah bunga adat menjadi kompos organik ini, kebersihan dan keasrian kawasan wisata budaya dapat terus dijaga secara berkelanjutan. Inovasi pengelolaan sampah berbasis kearifan lokal ini menjadi contoh teladan bagi daerah lain dalam menyelesaikan masalah sampah organik di wilayah mereka. Pemerintah daerah berjanji akan terus menyuplai peralatan pencacah bunga bagi kelompok pengomposan warga. Mari kita jaga kebersihan tempat suci kita dengan mengolah sampah secara bijak.
