Kabar kurang menggembirakan datang dari sektor agraris, di mana minat generasi muda untuk berkecimpung di bidang pertanian menunjukkan tren penurunan yang signifikan. Akibatnya, para petani kini menghadapi kesulitan besar dalam mencari pekerja, terutama saat musim panen tiba. Ironisnya, di beberapa daerah, untuk mendapatkan pekerja panen, petani harus melakukan inden atau pemesanan hingga 15 hari sebelumnya.
Fenomena ini menjadi sorotan utama dalam diskusi kelompok tani “Tunas Harapan” di Desa Suka Tani, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Bapak Ahmad Fauzi, ketua kelompok tani tersebut, pada hari Sabtu, 26 April 2025, mengungkapkan keprihatinannya. “Dulu, anak-anak muda di desa ini banyak yang membantu saat panen. Sekarang, mereka lebih memilih bekerja di kota atau menjadi buruh pabrik. Kami harus mencari pekerja dari luar desa dan memesannya jauh hari sebelum panen,” tuturnya. Penurunan minat ini menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan bidang pertanian di wilayah tersebut.
Beberapa faktor disinyalir menjadi penyebab utama menurunnya minat pemuda di bidang pertanian. Persepsi bahwa bekerja di sawah atau ladang itu berat, kotor, dan kurang menjanjikan secara ekonomi menjadi salah satu alasan kuat. Selain itu, kurangnya inovasi dan modernisasi dalam praktik pertanian membuat sektor ini kurang menarik bagi generasi Z yang tumbuh dengan teknologi. Minimnya akses terhadap informasi dan pelatihan pertanian modern juga memperburuk situasi ini.
Data yang dihimpun oleh Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur per tanggal 3 Mei 2025 menunjukkan bahwa rata-rata usia petani di wilayah tersebut kini mencapai 55 tahun. Sementara itu, persentase petani berusia di bawah 35 tahun hanya sekitar 12%. Angka ini mengindikasikan adanya jurang generasi yang cukup lebar di bidang pertanian. Jika tidak segera diatasi, kondisi ini dapat mengancam produktivitas pertanian dan ketahanan pangan daerah.
Berbagai upaya kini tengah diinisiasi oleh pemerintah daerah dan organisasi petani untuk menarik minat generasi muda kembali ke bidang pertanian. Program-program seperti pelatihan pertanian berbasis teknologi, pemberian bantuan modal usaha bagi petani muda, serta kampanye positif tentang potensi dan peluang di sektor pertanian gencar dilakukan. Diharapkan, dengan langkah-langkah ini, stigma negatif terhadap pekerjaan di sawah dapat diubah dan lebih banyak pemuda yang tertarik untuk menjadi petani modern.
Informasi tambahan: Berdasarkan laporan dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pacet pada tanggal 10 Mei 2025, terjadi peningkatan permintaan pekerja panen hingga 30% dibandingkan tahun sebelumnya, namun ketersediaan pekerja justru menurun.
