Kabupaten Gianyar selama ini dikenal sebagai jantung kebudayaan Bali sekaligus paru-pagi bagi pariwisata berbasis alam yang menawarkan pemandangan terasering sawah yang memesona. Namun, keindahan tersebut kini menghadapi tantangan besar seiring dengan pesatnya pembangunan akomodasi wisata di jalur hijau. Fenomena Gianyar Terancam bukan sekadar slogan, melainkan peringatan akan hilangnya identitas agraris yang selama berabad-abad menjadi fondasi kehidupan sosial dan spiritual masyarakat melalui sistem Subak. Tekanan ekonomi dan tingginya minat investasi properti telah memicu gelombang perubahan pemanfaatan lahan yang kian sulit terbendung.
Pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan adat kini mulai memperketat kebijakan guna melakukan Pengawasan Ketat terhadap perizinan mendirikan bangunan di kawasan produktif. Maraknya spekulan tanah yang mengincar lahan pertanian dengan harga tinggi membuat para petani sering kali tergoda untuk menjual aset mereka. Jika hal ini terus dibiarkan tanpa regulasi yang mengikat, ekosistem persawahan yang berfungsi sebagai daerah resapan air akan hilang dan berganti dengan beton permanen. Oleh karena itu, pengawasan tidak hanya dilakukan di atas kertas melalui izin mendirikan bangunan (IMB), tetapi juga melalui patroli lapangan yang melibatkan aparat desa dan pecalang untuk memastikan tidak ada pembangunan ilegal.
Masalah utama yang menjadi sorotan adalah masifnya fenomena Alih Fungsi Sawah yang terjadi di kecamatan-kecamatan penyangga seperti Ubud dan Tegallalang. Sawah-sawah yang dulunya menjadi sumber pangan kini telah berubah wujud menjadi bangunan-bangunan mewah yang sering kali menutup akses irigasi bagi petani lainnya. Dampak domino dari perubahan ini adalah rusaknya sistem irigasi tradisional Subak, yang jika salah satu alirannya terputus, maka lahan di sekitarnya pun akan ikut mengering. Hal ini memicu keresahan di kalangan praktisi budaya dan pemerhati lingkungan yang khawatir bahwa warisan dunia UNESCO ini akan musnah akibat kerakusan komersial semata.
Keinginan wisatawan untuk menikmati pemandangan sawah secara eksklusif justru menjadi pendorong utama pembangunan Menjadi Villa di titik-titik yang seharusnya dilarang. Ironisnya, ketika seluruh sawah di suatu kawasan telah habis dibangun, daya tarik wisata di tempat tersebut pun akan hilang secara otomatis. Gianyar sedang berada di persimpangan jalan antara mempertahankan tradisi atau mengejar pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Diperlukan skema insentif bagi petani, seperti pembebasan pajak bumi dan bangunan (PBB) untuk lahan produktif atau pemberian subsidi pupuk dan bibit, agar mereka merasa bahwa mempertahankan sawah jauh lebih menguntungkan daripada melepaskannya kepada investor.
